Lewat
kitab ora tinulis ning iso diwoco,
kitab tak tertulis tapi bisa dibaca, pembaca akan diajak membaca simbolisasi
ayat-ayat alam bambu unik, serta makna simboliknya sebagai ayat-ayat kauniyah.
Di kalangan
pengaji bambu unik (deling), keberadaan bambu ini juga disebutkan
sebagai pusaka alam kitab tak tertulis tapi bisa dibaca.
Disebut sebagai
pusaka alam, ia mawujud bukan hasil
rekayasa kerajinan tangan manusia. Ia mawujud
langsung dari alam yang memanifestasikan diri dalam simbol-simbol khusus yang
membawa pesan-pesan alam yang tersembunyi di dalamnya untuk dibaca manusia.
Di sini kita juga
diajak: ngaji rasa, ngaji diri.
Sekaligus juga diajak, yang akan
membawa pada “Kesadaran Ilahiyah”,
dengan kata lain membawa kita memasuki dimensi “Transendensi”.
Pada dimensi “Transendensi” inilah yang dalam alam
sufisme Ibn ‘Arabi, manusia bukan saja diajak “dialogis” dengan dimensi
kosmologis, juga mengalami perjumpaan dengan dimensi teofani, yang disebutnya sebagai “imajinasi kreatif”.
Oleh filsuf
eksistensialis Karl Jaspers, “Transendensi”
adalah nama untuk keilahian yang tersembunyi diwujudkan dalam chiffer-chiffer yang berarti “tanda
rahasia” berupa simbol-simbol yang masih diselimuti misteri.
Sebagai ayat-ayat
kauniyah, ia tersembunyi, sehingga banyak jawaban yang harus dicari sendiri.
Walau manusia
tidak akan mampu menjangkau membuka keseluruhan tabir rahasia misteri alam
semesta, tapi setidaknya di sini kita diajak mentafakuri.
Lewat tanda-tanda
kebesaran alam, walau hanya dari sepotong bambu unik, setidaknya semakin
menebalkan keimanan dan ketakjuban atas kebesaran Tuhan Semesta Alam.
Tak ada yang tak
ada atas kehendak kuasa-Nya.


